Doa yang Tak Jadi Sumpah
DOA YANG TAK JADI SUMPAH
Oleh: Syahfaty
Seorang ibu datang membawa luka,
menangis di hadapan seorang guru.
Tiga tahun memendam kecewa,
namun tetap menyebutnya: anakku.
“Kalau tak ingat ia anakku,
mungkin sudah aku sumpahi.”
Ada getir di balik kata-katamu,
ada kasih yang menahan diri.
“Jangan, Bu. Doakan dia.”
Kataku lirih, mencoba menguatkan.
Sebab hati yang terluka
pun berhak menemukan ketenangan.
Wahai anak, entah apa yang kau rasa,
hingga ibumu menjadi tempat amarahmu.
Ia mungkin tak sempurna,
tetapi ia pun punya hati yang bisa pilu.
Pagi itu aku tak membawa jawaban,
hanya mendengar dan menyimpan doa.
Semoga luka tak menjadi dendam,
semoga kasih menemukan jalan pulang.
Ahad, 18 Oktober 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan