Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Misi Mencari Sepuluh Pembaca

Misi Mencari Sepuluh Pembaca

Oleh:Syahfaty

Ketika Literasi Bersiap Turun ke Lapangan

Waktu tinggal sehari.

Sementara itu, sepuluh siswa yang akan tampil dalam kegiatan Book Talk besok belum juga terkumpul.

Sepuluh orang saja. Bukan seratus. Seharusnya mudah, bukan?

Ternyata, dalam urusan mencari anak-anak yang siap berdiri di depan ratusan pasang mata dan bercerita tentang buku yang mereka baca, hitung-hitungan sederhana itu tidak berlaku.

Aku mulai mencari data dari wali kelas dan guru Bahasa Indonesia. Siapa tahu ada anak-anak yang punya hobi membaca, senang bercerita, atau setidaknya berani tampil di depan teman-temannya.

Alhamdulillah, beberapa nama berhasil kudapatkan. Namun, jumlahnya belum cukup.

Baiklah. Kalau nama-nama itu belum datang kepadaku, berarti aku yang harus menjemput mereka.

Maka dimulailah gerilya kecil-kecilan.

Aku turun langsung, masuk dari kelas ke kelas, mencari bibit-bibit pembaca di antara sekian banyak siswa. Rasanya seperti sedang melakukan pencarian bakat, hanya saja kali ini bukan untuk menyanyi, menari, atau bermain musik. Aku sedang mencari anak-anak yang bersedia berbagi cerita tentang buku.

Alhamdulillah, hasilnya justru di luar dugaan. Aku menemukan cukup banyak anak yang gemar membaca. Kebanyakan masih duduk di kelas X.

Tak apalah.

Bukankah benih yang baik tidak harus menunggu besar untuk mulai tumbuh?

Aku justru membayangkan, kalau mereka diberi kesempatan sejak kelas X, siapa tahu kelak mereka menjadi penggerak literasi yang lebih hebat daripada gurunya.

Setidaknya, saat itu aku bisa sedikit bernapas lega. Sepuluh orang yang kucari mulai menemukan bentuknya.

Ada satu hal yang membuatku ingin kegiatan besok benar-benar istimewa.

Kegiatan literasi di lapangan ini adalah yang pertama pada tahun ajaran ini. Biasanya, literasi berlangsung di kelas masing-masing. Besok, dua puluh kelas akan berkumpul di satu tempat.

Aku ingin penampilan perdananya menggoda.

Bukan menggoda dalam arti yang macam-macam, tentu saja. Maksudku, kegiatan ini harus punya daya tarik. Anak-anak jangan sampai merasa bahwa literasi di lapangan hanyalah kegiatan rutin yang kebetulan dipindahkan tempatnya.

Aku ingin ada sesuatu yang berbeda. Ada pengalaman baru. Ada kesan yang membuat mereka menunggu kegiatan literasi berikutnya.

Tetapi, tentu saja, membayangkan dua puluh kelas duduk bersama di lapangan jauh lebih mudah daripada melaksanakannya.

Dua puluh kelas itu bukan dua puluh kursi yang tinggal disusun. Ada ratusan siswa yang harus bergerak, mencari tempat, duduk sesuai kelas, dan mengikuti arahan. Aku memperkirakan, setidaknya lima belas menit dibutuhkan untuk mengatur semuanya.

Lima belas menit mungkin terdengar sebentar. Namun, jika ratusan anak bergerak tanpa koordinasi, lima belas menit bisa berubah menjadi waktu yang terasa panjang.

Karena itulah, aku tahu kegiatan ini tidak mungkin berjalan hanya dengan mengandalkan satu orang.

Wali kelas dan guru-guru harus menjadi garda terdepan. Semua perlu terlibat. Bukan sekadar hadir, melainkan ikut mengawal agar anak-anak tertib dan kegiatan berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Literasi kali ini memang milik tim, bukan milikku seorang.

Setelah menemukan calon-calon pembicara, aku memanggil beberapa siswa kelas XII dan XI yang namanya sudah kucatat.

Kepada mereka, kujelaskan bahwa besok mereka akan tampil di lapangan untuk membicarakan buku yang telah dibaca. Tidak ada layar presentasi. Tidak ada salindia berwarna-warni yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.

Hanya mereka, buku, dan ratusan teman yang akan mendengarkan.

Aku lalu menjelaskan poin-poin yang perlu disampaikan.

"Pertama, perkenalkan dirimu dan buku yang kamu baca. Sebutkan judul dan nama penulisnya. Setelah itu, ceritakan sinopsisnya secara singkat. Jangan menceritakan seluruh isi buku, ya. Nanti teman-teman tidak perlu membaca bukunya lagi."

Mereka menyimak.

"Lalu, sampaikan bagian yang paling menarik menurutmu. Mengapa bagian itu berkesan? Apa pesan atau inspirasi yang kamu dapatkan dari buku tersebut? Jelaskan juga kelebihan dan kekurangannya. Terakhir, rekomendasikan buku itu kepada siapa dan mengapa."

Aku berhenti sebentar, memastikan mereka memahami penjelasanku.

"Dan ingat, waktu kalian maksimal tiga menit."

Tiga menit!

Waktu yang sangat singkat untuk bercerita tentang sebuah buku, tetapi cukup panjang jika seseorang mulai berbicara ke mana-mana.

"Kalian berlatih di depan cermin, ya. Atur waktunya. Jangan sampai baru sampai sinopsis, waktunya sudah habis."

Aku berharap mereka benar-benar berlatih. Sebab, tampil di depan teman sendiri kadang justru lebih mendebarkan daripada mengerjakan soal ujian. Apalagi kalau yang menonton satu lapangan penuh.

Dalam hati, aku juga sedang berlatih membayangkan semuanya berjalan lancar.

Awalnya, aku sempat membayangkan anak-anak kelas X yang baru kutemukan itu langsung tampil besok.

Namun, setelah mempertimbangkan waktu persiapan yang sangat singkat, aku mengambil keputusan lain.

Biarlah kakak-kakak kelas XI dan XII tampil lebih dahulu. Mereka menjadi contoh bagi adik-adiknya. Setelah melihat bagaimana sebuah Book Talk disampaikan, anak-anak kelas X akan punya gambaran yang lebih jelas ketika mendapat giliran pada kegiatan berikutnya.

Aku tidak ingin mereka sekadar berdiri di depan dan berbicara karena diminta guru. Aku ingin mereka memahami bahwa berbagi bacaan itu menyenangkan.

Bahwa buku tidak harus selesai dibaca lalu disimpan kembali di rak.

Ada pengalaman yang bisa dibagikan. Ada pemikiran yang bisa didiskusikan. Ada inspirasi yang mungkin tidak ditemukan oleh orang lain sebelum seseorang menceritakannya.

Dan siapa tahu, dari satu presentasi singkat besok, ada anak yang pulang dengan keinginan mencari buku yang sama.

Bukankah itu sudah menjadi sebuah keberhasilan?

Setelah urusan calon pembicara selesai, aku masih harus berkomunikasi dengan pembawa acara dan petugas pembaca doa. Urutan kegiatan, kesiapan siswa, pengaturan tempat, tugas menyimak, sampai pengumpulan catatan harus dipastikan.

Satu per satu kucoba rapikan.

Aku tahu, rencana yang bagus belum tentu berjalan persis seperti yang dibayangkan. Akan selalu ada kemungkinan sesuatu terjadi di luar perkiraan. Namanya juga kegiatan sekolah, dengan ratusan anak dan banyak orang yang terlibat.

Namun, setidaknya, persiapan harus dilakukan sebaik mungkin.

Selebihnya, kita berusaha dan berdoa.

Sore itu, aku pulang membawa dua hal: kelegaan dan harapan.

Kelegaan karena akhirnya menemukan anak-anak yang bersedia tampil. Harapan karena besok akan menjadi pengalaman baru bagi warga sekolah, terutama bagi anak-anak yang selama ini mengenal literasi sebagai kegiatan di dalam kelas.

Di perjalanan pulang, pikiranku masih sibuk membayangkan lapangan sekolah.

Dua puluh kelas duduk bersama. Guru-guru mendampingi. Pembawa acara membuka kegiatan. Doa dipanjatkan. Lalu, satu per satu siswa maju membawa cerita dari buku yang mereka baca.

Aku membayangkan anak-anak yang biasanya menjadi pendengar, kali ini belajar menjadi penyimak yang baik. Mereka mencatat informasi, menemukan hal menarik, lalu mungkin mulai penasaran terhadap buku yang belum pernah mereka sentuh.

Aku membayangkan suasana yang tertib, tetapi tidak kaku. Serius, tetapi tetap menyenangkan.

Dan yang paling kuharapkan, kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara sehari.

Sebab, bagiku, literasi bukan tentang membuat anak-anak sekadar menulis karena diperintah atau membaca karena ada tugas. Literasi adalah upaya membuka pintu. Setelah pintu itu terbuka, kita berharap mereka mau melangkah masuk dengan kesadaran sendiri.

Aku tahu, satu kegiatan tidak akan langsung mengubah kebiasaan ratusan siswa.

Namun, bukankah perubahan besar sering dimulai dari sesuatu yang kecil?

Besok, kami akan mencoba sesuatu yang baru. Aku sudah melakukan bagian yang bisa kulakukan. Anak-anak sudah dikumpulkan. Guru-guru sudah diberi informasi. Petugas kegiatan sudah dihubungi.

Kini, aku hanya ingin semua berjalan dengan baik.

Semoga lapangan itu menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Semoga anak-anak yang tampil diberi keberanian. Semoga yang menyimak menemukan sesuatu yang berharga. Dan semoga ikhtiar kecil ini menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku.

Aku pulang membawa harapan dan doa.

Sementara di dalam kepala, kegiatan besok masih berulang seperti sebuah film yang belum diputar di layar.

Semoga besok bukan sekadar Literasi di Lapangan.

Semoga besok menjadi awal dari sebuah kebiasaan baik yang kelak tumbuh semakin besar.

Karena terkadang, tugas seorang penggerak literasi bukan hanya mengajak anak membaca buku, melainkan menemukan keberanian mereka untuk berbagi apa yang telah dibacanya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post