Perjuangan Sepasang Sepatu Coklat Tua
Oleh:Syahfaty
Aku bukan tipe orang yang terlalu memikirkan penampilan. Sepatuku tidak banyak. Warnanya pun seragam: hitam semua. Praktis, netral, dan tidak perlu pusing mencocokkan dengan pakaian. Maklum, hidup sudah cukup rumit tanpa harus ditambah urusan memilih sepatu. 😂
Suatu siang, aku dan suami pergi ke kawasan PIK untuk mencari sepatu baru. Sepatu lamaku sudah waktunya pensiun. Dulu aku pernah membeli sepatu di sana. Modelnya bagus dan awet. Maka, dengan harapan yang cukup tinggi, kami berangkat.
Kami berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Melihat ini, mencoba itu, lalu pindah lagi. Sayangnya, tak satu pun sepatu berhasil mencuri hatiku.
Akhirnya, kami pulang dengan tangan kosong. Rencananya, pencarian akan dilanjutkan lain waktu di toko sepatu yang berbeda.
Belum sampai seminggu, suamiku datang membawa sebuah kotak. Aku membukanya. Sepasang sepatu! Warnanya hitam. Aku tersenyum. Tentu saja aku senang diperhatikan dan diberi hadiah. Hanya saja, ada sedikit ganjalan di hati. Modelnya kurang cocok dengan seleraku.
"Terimong geunaseh", kataku,
" Suka gak?" Balas nanya
"Tentu saja suka. Tapi hitam udah beberapa. Jika ada warna lain, Cokelat tua, misalnya, pastinya lebih suka. Jadi bisa kupakai hari Senin dan Selasa, menyesuaikan dengan warna seragam." Kataku jujur sambil senyum syukur.
Besoknya, sepatu itu sudah berganti warna sesuai keinginanku. Modelnya bagus. Aku suka! Masalah selesai?
Tunggu dulu. Ini baru babak pertama. Ketika pertama kali memakainya, kakiku mulai mengajukan protes. Bukan protes biasa, melainkan demonstrasi besar-besaran!
Baru berjalan sebentar, rasanya sudah tidak nyaman. Aku meringis. Dalam hati, aku ingin sekali melepas sepatu itu, lalu berjalan tanpa alas kaki. Nyeker! Kalau perlu, sambil berkokok seperti ayam yang baru keluar kandang. 😂
Sayangnya, aku sedang berada di sekolah. Di sekelilingku ada anak-anak. Masa iya, seorang guru berjalan nyeker sambil menenteng sepatu? Apa kata dunia pendidikan?
Akhirnya, kutahan penderitaan itu sambil memasang wajah seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ya Allah, ternyata perjuangan menjadi cantik itu tidak sederhana! Padahal, niat awalnya cuma membeli sepatu. Bukan mengikuti pelatihan ketahanan fisik.
Aku pun berhenti memakai sepatu itu. Namun, seminggu kemudian, aku kembali mencobanya. Entah mengapa, aku merasa harus memberinya kesempatan kedua. Bagaimanapun, sepatu itu hadiah dari suami. Masa baru dipakai sebentar sudah masuk daftar barang pensiunan?
Aku mulai menghibur diri sendiri. "Sudahlah. Sepatu ini kupakai hanya di sekolah. Berangkat dan pulang naik motor, aku pakai sepatu santai. Jadi, penderitaannya tidak sepanjang hari.
"Strategi yang cukup masuk akal, bukan?
Hari demi hari berlalu. Aku tetap memakainya, meskipun sesekali kakiku masih mengeluh. Lama-lama, entah karena sepatunya mulai menyesuaikan diri atau kakiku yang mulai berdamai, semuanya terasa semakin nyaman.
Sekarang, aku sudah tidak punya masalah lagi dengan sepatu itu. Hak lima sentimeter yang dahulu terasa seperti ujian kehidupan, kini menjadi teman setia ke sekolah.
Dan yang paling penting, aku merasa penampilanku sedikit berbeda. Tidak tampak seperti orang yang sebentar lagi memasuki masa pensiun! Hahahaha! 😂😂😂
Dari sepatu coklat tua itu, aku belajar bahwa tidak semua hal yang awalnya terasa tidak nyaman harus buru-buru ditinggalkan. Kadang-kadang, kita perlu waktu untuk mengenal, menyesuaikan diri, dan menemukan kenyamanan.
Tentu saja, bukan berarti semua ketidaknyamanan harus dipaksakan. Kalau memang menyakitkan, kita perlu mencari jalan keluar.
Namun, dalam beberapa hal, memberi kesempatan kedua bisa menghasilkan cerita yang berbeda. Dan sekarang, setiap kali memakai sepatu itu, aku teringat satu hal: ada perhatian suami di balik kotaknya, ada kesabaran dalam prosesnya, dan ada sedikit perjuangan yang akhirnya bisa kutertawakan sendiri.
Ternyata, perjalanan menuju kenyamanan bisa dimulai dari sepasang sepatu coklat tua. Dengan hak lima sentimeter pula! Siapa bilang perjuangan harus selalu tentang mendaki gunung atau menyeberangi lautan?
Kadang-kadang, perjuangan itu cukup dengan menahan keinginan untuk nyeker di sekolah. 🤣
Baiti Jannati, antara detak jantung dan detik jam dinding.
Rabu, 15 Oktober 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan