Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Seteguk Bensin

KETIKA IBU NEGARA SALAH ISI BENSIN

Cerpen Komedi Rumah Tangga

Negara itu bernama Rumah.

Wilayah kekuasaannya tidak terlalu luas. Penduduknya pun tidak seberapa. Namun, urusan pemerintahannya luar biasa kompleks. Ada urusan dapur, cucian, kebersihan, persediaan makanan, dan berbagai pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Pemimpin negaranya merangkap banyak jabatan. Hari ini, ia sedang menjalankan tugas sebagai guru Fisika sekaligus petugas pemeriksa hasil pekerjaan murid.

Namanya Desy.

Pagi itu, Desy sedang serius mengoreksi. Kertas demi kertas diperiksa dengan penuh konsentrasi. Sesekali tangannya bergerak menulis angka, memberi tanda, atau membuat catatan kecil.

Waktu berjalan.

Kertas bertambah sedikit demi sedikit. Namun, ada satu hal yang mulai berkurang drastis.

Air dalam tubuhnya.

Haus!

Haus sekali!

Akan tetapi, Desy sedang berada dalam kondisi yang sering dialami para pejuang pekerjaan: terlalu asyik untuk berhenti, tetapi sudah terlalu haus untuk bertahan.

Kipas angin pun belum dinyalakan.

Malas bangun.

Masih bisa tahan, pikirnya.

Beberapa menit kemudian, pertahanan itu runtuh.

Desy menyerah.

Ia bangkit, menyalakan kipas angin, lalu berjalan menuju dispenser. Misi kali ini sederhana: mencari air minum, membasahi tenggorokan, kemudian kembali bertempur dengan koreksian.

Di dekat dispenser, matanya menangkap sebuah botol kecil.

Botol itu sudah sangat dikenalnya. Biasanya, botol tersebut dipakai untuk menyimpan air zamzam.

Tanpa curiga, Desy mengambilnya.

Ia mengisi botol sampai penuh.

Penuh menurut ukuran botol itu, tentu saja. Isinya tidak banyak. Bahkan tidak sampai seratus mililiter.

Desy ingat bahwa kali ini isinya bukan air zamzam. Namun, ia tidak merasa ada masalah. Toh, yang penting air minum.

Ia berjongkok.

Bismillah.

Tegukan pertama masuk ke mulut.

Tidak ada rasa aneh.

Tidak ada rasa pahit.

Tidak ada sensasi yang membuat lidah mengajukan protes.

Namun, beberapa detik kemudian, hidungnya menangkap sesuatu.

Aroma yang sangat familier.

Aroma minyak korek zaman dahulu.

Desy berhenti.

Sebagai guru Fisika, ia terbiasa melakukan pengamatan sebelum mengambil kesimpulan. Maka, ia pun memulai penyelidikan.

Dari mana asal bau ini?

Ia menoleh ke kanan.

Tidak ada apa-apa.

Ke kiri.

Tidak ada apa-apa.

Ia memeriksa botol.

Jangan-jangan ...

Desy mencium mulut botol itu.

Hmm.

Kecurigaan mulai tumbuh.

Tetapi, seorang peneliti sejati tidak boleh terburu-buru membuat kesimpulan hanya berdasarkan satu pengamatan.

Maka, terjadilah pengamatan kedua.

Desy kembali mencicipi seteguk kecil.

Eh!

Aromanya makin jelas.

Ini bukan aroma air putih. Bukan pula aroma air zamzam.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Desy segera mencari sumber masalahnya.

"Kak, apakah di botol ini diisi cairan lain?"

Pertanyaan itu terdengar biasa saja.

Namun, jawaban yang diterimanya sungguh di luar perkiraan.

"Iya, bensin. Emang diminum?"

Hening.

Sejenak, dunia seperti berhenti berputar.

Desy menatap botol.

Botol menatap Desy.

Tentu saja botol tidak benar-benar menatapnya. Itu hanya perasaan Desy yang sedang mengalami guncangan ilmiah.

BEN-SIN?

Bukan air zamzam?

Bukan air putih?

Bukan pula air mineral?

BENSIN?!

Astaghfirullah!

Ternyata, selama ini botol kecil itu telah mengalami alih fungsi tanpa pemberitahuan kepada pemilik rumah.

Dahulu, ia bertugas sebagai wadah air zamzam.

Kini, ia diam-diam telah naik jabatan menjadi wadah bahan bakar kendaraan.

Sayangnya, proses pergantian jabatan itu tidak disertai pemasangan papan nama.

Akibatnya, Ibu Negara salah mengidentifikasi isi botol.

Sebuah kesalahan administrasi yang nyaris melibatkan saluran pencernaan!

---

Setelah menyadari apa yang terjadi, Desy segera menghentikan penyelidikan dengan metode pencicipan.

Tidak ada lagi tegukan ketiga.

Tidak ada lagi pengujian rasa.

Cukup. Penelitian dihentikan!

Ia kemudian menuju dapur.

Di tengah kekacauan kecil itu, tiba-tiba muncul sebuah keinginan baru.

Membuat teh karamel.

Entah bagaimana, pikirannya beralih dari bensin ke teh. Barangkali karena otak manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk berpindah topik ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Maka, dibuatlah teh karamel.

Ditambahkan susu.

Jadilah teh karamel susu.

Desy meminumnya.

Setelah itu, ia kembali ke medan perang.

Koreksian menunggu.

Kertas-kertas tidak mungkin memeriksa dirinya sendiri.

Desy kembali duduk, membuka lembar berikutnya, lalu melanjutkan pekerjaan.

Tak lama kemudian, ia naik tangga.

Gerakannya terasa cepat.

Wah!

Sepertinya tubuhnya sedang mengalami peningkatan performa.

Barangkali ini efek bahan bakar, pikirnya sambil bercanda.

Kalau motor bisa berjalan setelah diisi bensin, mengapa manusia tidak boleh sedikit merasa seperti mesin yang baru mengisi tangki?

Tentu saja, itu hanya lelucon. Bensin bukan bahan bakar manusia.

Dan setelah kejadian itu, Desy tetap perlu memastikan dirinya baik-baik saja. Ia tidak menganggap remeh apa yang baru saja terjadi.

Namun, di balik kejadian yang tidak diharapkan itu, ada satu kesimpulan penting yang akhirnya ia ambil.

Botol kecil itu tidak boleh lagi dibiarkan tanpa identitas.

Bensin seharusnya disimpan dalam wadah yang sesuai, berlabel jelas, dan jauh dari botol minuman.

Tidak boleh ada lagi botol bensin yang menyamar sebagai botol air zamzam.

Tidak boleh ada lagi pergantian jabatan secara diam-diam.

Dan yang paling penting, tidak boleh ada lagi penelitian menggunakan lidah untuk mengidentifikasi cairan misterius.

---

Malam harinya, setelah semua pekerjaan selesai, Desy teringat kembali pada peristiwa pagi tadi.

Ia tertawa sendiri.

Betapa sederhana awal ceritanya.

Hanya seorang perempuan yang kehausan karena terlalu asyik mengoreksi.

Hanya sebuah botol kecil di dekat dispenser.

Hanya satu tegukan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Namun, rangkaian peristiwa itu berhasil menciptakan kisah yang mungkin akan dikenangnya bertahun-tahun kemudian.

Sejak hari itu, Desy menetapkan peraturan baru di Negara Rumah.

Air minum harus berada di wadah air minum. Bensin harus tinggal di tangki motor.

Keduanya tidak boleh bertukar tempat.

Tidak boleh bertukar tugas.

Apalagi bertukar nasib.

Sebab, Ibu Negara boleh saja salah menghitung jumlah angka penting dalam soal Fisika.

Boleh salah memberi tanda pada lembar jawaban.

Bahkan boleh lupa menyalakan kipas angin karena terlalu asyik bekerja.

Namun, untuk urusan bensin dan air minum, tidak ada toleransi bagi kesalahan identifikasi.

Mulai sekarang, setiap botol wajib memiliki identitas yang jelas.

Dan setiap cairan wajib berada di tempat yang semestinya.

Titik!

TAMAT.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post