NURROHMAH PUJI MASTUTI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mak, Aku Malas Menulis

Sudah sekian bulan Arini rajin menulis. Baik berupa materi pelajaran maupun karya sastra seperti puisi dan cerpen yang disalin dari majalah kesukaannya.

Namun, setelah mempunyai kebiasaan itu, tiba-tiba hari itu Arini berteriak dengan keras, semacam orang yang memiliki beban berat dari dalam hatinya.

"Mak, aku malas menulis!" teriak Arini.

Emak yang ada di dapur pun tak mendengar suaranya. Karena Emak sedang sibuk menggoreng ikan asin kesukaan Arini. Bunyi yang ditimbulkan oleh minyak panas bercampur air membuat Arini semakin kesal.

"Maaak! Emak dengar Arini nggak?" teriaknya.

Bergegas Emak menghampiri Arini setelah mematikan api pada tungku di sudut dapur.

"Ada apa sih, Nak? Emak dengar teriakan, tapi tidak jelas," tanya Emak.

Arini duduk dengan kesal sembari menatap Emak yang semakin kebingungan. Tiba-tiba air matanya menetes. Tak lama tangis pun pecah. Membuat Emak semakin bingung menghadapinya.

"Ada apa sih? Kamu bertengkar sama temanmu? Atau Bu Guru memarahimu?" tanya Emak.

Arini mengusap air matanya. Dia bercerita sambil memeluk Emak yang duduk di kursi kayu. Arini malas menulis. Kini di sekolahnya diharuskan membaca buku-buku di perpustakaan. Kemudian gurunya menyuruh setiap anak membuat rangkuman dan menyetorkan tulisan dalam bentuk file melalui email. Bagaimana mungkin Arini dapat melakukan tugas itu?

Emak mengelus rambut Arini. Dia berjanji akan membelikan gawai untuk Arini. Entah kapan. Walaupun tidak harus gawai yang baru dari toko di tengah kota itu.

Arini tersenyum. Dia masih memiliki harapan untuk terus menulis seperti teman-temannya. Memiliki gawai yang dapat digunakan untuk belajar.

Sore itu, Arini kembali duduk di meja belajarnya. Meja yang sekaligus berfungsi sebagai meja tamu. Dia kembali menulis, dengan harapan kelak dapat menyalinnya dan mengirimkan tugas itu kepada gurunya.

"Nah, begitu dong. Arini tidak lagi malas menulis 'kan?" tanya Emak.

Arini menggeleng. Senyum ceria kembali menghiasi wajahnya yang polos. Cita-cita mestinya tidak harus berhenti karena keterbatasan ekonomi dan kesulitan dalam kehidupan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post