NURROHMAH PUJI MASTUTI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bukan Salah Prosedur

Bukan Salah Prosedur

Pukul enam pagi. Matahari tampak cerah meskipun suasana masih terasa dingin. Bergegas aku bersiap-siap agar tak terlambat berangkat kerja. Motor masih ada di garasi, sepatu masih harus dicari, bekal pun jangan sampai ketinggalan lagi.

Sekitar pukul enam seperempat, motor melaju ke timur. Entah, tetiba jalan yang biasanya kulewati tak tampak dalam penglihatan. Rupanya aku tak konsentrasi saat melewati jalur dekat jembatan dan gedung baru untuk MBG itu. Tak apalah. Toh masih ada jalur lainnya yang sudah lumayan bagus sejak akhir pengecoran minggu lalu.

Tiba di dekat pondok, aku pun berbelok. Lampu sein sengaja kunyalakan tanda aku akan belok ke kanan. Maksud hati mampir sebentar untuk belanja bahan-bahan percobaan.

Tiba di sebuah mini market, tampak dua sandal berjajar di depan pintu. Beberapa pegawai masih sibuk menata barang. Tak lupa permisi saat menginjak lantai yang agak basah, aku pun menuju rak bahan-bahan dapur. Dengan harapan ada bahan kimia tersedia di sana. Mondar-mandir mencari beberapa kali, ternyata bahan-bahan itu ada di rak belakang.

Tiba di sekolah agak kesiangan meski belum terlambat. Usai pembiasaan pagi, kulihat jadwal pelajaran IPA masih di sesi ketiga. Bergegas aku mencari kunci laboratorium dan menyiapkan ruang serta alat-alat dan bahan-bahan percobaan. Lelah pun perlahan menghampiri badan.

Giliran pada jam pelajaran IPA, aku pun masuk ke kelas sembilan. Maksud hati hanya akan melanjutkan materi tanpa percobaan karena tetiba aku merasa lelah sekali. Namun tiba di kelas, suasana menjadi berbeda. Para murid antusias untuk melanjutkan pelajaran dengan percobaan sesuai rencana minggu sebelumnya.

Tak lama, percobaan pun dimulai. Prosedur, lengkap dengan alat-alat serta bahan sudah ada di meja mereka. Ada empat kelompok besar untuk percobaan kimia dengan anggota heterogen.

Satu demi satu percobaan dilakukan. Namun tetiba sedikit kegaduhan terjadi pada kelompok empat. Sontak aku pun bergegas menghampiri mereka yang berada di sudut belakang sebelah barat.

Beberapa murid meninggalkan meja. Ada dua yang masih duduk di dekatnya. Aku lihat, salah satu botol air mineral bekas yang digunakan untuk wadah percobaan menggembung dan hampir meletus.

Wah, pelanggaran prosedur ini, pikirku. Bukan salah prosedur yang sudah kusampaikan, tetapi ada salah satu murid yang sengaja menyalahi prosedur. Segera kuminta membuka tutup botolnya. Reaksi kimia antara baking soda dan larutan asam sitrat memang menghasilkan gas karbondioksida. Jika botol tetap tertutup rapat, tentu ini berbahaya.

Salah satu murid pun dengan berani membuka tutup botol itu. Murid-murid yang lain menanggapi dengan ekspresi yang berbeda-beda. Mereka ada yang ketakutan, ada juga yang tertawa sembari menyalahkan temannya.

Dari percobaan dan pengalaman hari ini, mereka belajar tidak hanya tentang reaksi kimia. Tetapi mereka juga lebih memahami bahwa untuk setiap percobaan harus dilakukan lebih hati-hati dan taat pada prosedur yang ada. Bukan karena salah prosedur, namun tentang pemahaman penerapan kebenaran. Bahwa di setiap melakukan percobaan, tak boleh sembarangan dan dibuat permainan.

H21, Kota Bayu, 21 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post