Pertemuan yang Menyakitkan
Tantangan menulis 365 hari ke-1555 tanpa jeda
Pertemuan yang Menyakitkan
Bagian 8
Mendengar omongan Halimah sang mantan, yang mata duitan sama dengan ibunya, Sukri benci sekali. Meski sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun peristiwa Halimah meninggalkan dirinya, namun kenangan pahit yang menyakitkan hatinya itu belum hilang. Luka hati Sukri belum sembuh. Makanya mendengar sapaan Halimah itu Sukri diam saja, dia tak menanggapi.
“Abang kapan sampai di desa kita ini?”
Belum sempat Sukri menjawab, Shila sudah bertanya dengan suaminya.
“Ada tamu ya Pa, siapa Pa?”
“Tidak tahu Ma, mungkin tetangga jauh. Mama siapkan uangnya.”
Begitu Shila keluar dari kamar, dia langsung memberi dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah. Setelah sang istri memberi Halimah uang. Sukri izin meninggalkan Halimah.
“Saya tinggal dulu ya Bu, silakan ngobrol dengan istri saya.” ujar Sukri memanggil Halimah dengan panggilan ibu, seakan tak mengenal Halimah.
Mendengar perkataan Sukri yang seperti orang tidak kenal dengan dirinya, Halimah malu sekali. Dia langsung pamit pulang, di rumahnya dia terus menerus menangis. Ada penyesalan yang besar pada dirinya telah mengkhianati cinta tulus Sukri.
Di benaknya terlintas pikiran, kalau aku tak tergiur oleh kekayaan mantan suamiku yang ternyata hanya tipuan, aku sudah menjadi istri Sukri yang kaya. Pasti hidupku tak susah seperti sekarang ini.
Selesai
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
