Pertemuan yang Menyakitkan
Tantangan menulis 365 hari ke-1550 tanpa jeda
Pertemuan yang Menyakitkan
Bagian 3
Hari-hari terus dia jalani, pada suatu pagi ketika dia sedang menyapu masjid, melaksanakan tugasnya sebagai marbot, dia melihat beberapa orang ASN dan PPPK yang berangkat kerja menuju ke kantor, terlintas kata dalam hati Sukri.
“Kapan aku bisa seperti mereka ya?”
Pertanyaan dalam hatinya itu, selalu terngiang-ngiang dalam dirinya, lalu timbul pemikiran, kalau aku bekerja sebagai marbot terus, kapan aku menjadi orang kaya? Kemudian muncullah keinginannya untuk menjadi guru honor, mumpung awal tahun ajaran baru.
Keinginannya itu dia sampaikan ke Mamad.
“Pak, selain sebagai marbot, aku mau cari kerja sebagai guru honor di sekolah swasta yang ada di kabupaten ini.”
“Oh, bagus itu Nak. Soal tugasmu sebagai marbot, nanti kita atur secara aplusan saja.”
“Terima kasih Pak atas dukungannya.”
Besok harinya, Sukri mulai mendatangi sekolah-sekolah swasta untuk mencari kerja. Baru saja mendatangi satu sekolah, dia sudah diterima menjadi guru di sekolah itu.
Sukri senang sekali, begitu juga dengan Mamad dia ikut senang rekan kerjanya sebagai marbot mendapat pekerjaan lain. Pimpinan masjid tak keberatan Sukri mencari pekerjaan lain sebagai guru honor, yang penting tugasnya sebagai marbot bisa dia lakukan.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
