Dia Bukan Jodohku
Tantangan menulis 365 hari ke-1597 tanpa jeda
Dia Bukan Jodohku
Bagian 3
“Saya belum punya pacar, Bu.”
“Kamu kan cantik, Nak. Sudah bekerja, tinggal di kota, mana mungkin tidak ada satu pria pun tertarik padamu.”
“Belum ada, Bu.”
“Kalau begitu biar Ibu yang mencarikan jodoh buatmu.”
“Tak usah, Bu. Bila sudah tiba waktunya, jodoh itu akan datang dengan sendirinya.”
“Sampai kapan? Ingat Nak, menurut tradisi di kampung kita telat menikah itu sebagai suatu aib. Warga kampung bisa mengejekmu sebagai perawan tua. Menyandang status itu sangat menyakitkan.”
“Iya Bu. Aku akan berusaha segera menikah.”
***
Karena didesak oleh ibunya untuk segera menikah, Sisi memberanikan diri minta kejelasan statusnya ke Budi. Itu Sisi sampai ke Budi saat mereka berdua saja bersantai di suatu kafe di luar kota.
“Pak aku minta kejelasan status kita. Bapak menganggapku sebagai teman atau lebih dari teman?”
“Mengapa kamu menanyakan itu?”
“Ibuku di kampung mendesakku agar aku segera menikah.”
“Sebenarnya, aku mencintaimu meski kita tidak berstatus pacaran. Suatu saat aku akan menjadikan dirimu sebagai istriku.”
“Kapan?”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
