Perlunya Berbuat Baik dengan Tetangga
Tantangan menulis 365 hari ke-1588 tanpa jeda
Perlunya Berbuat Baik dengan Tetangga
Bagian 5
“Iya, Dok. Bagaimana dengan anak dan suami saya?”
“Alhamdulillah mereka sudah melewati masa kritis, dan sudah sadar. Namun belum boleh ditemui. Mungkin tak berapa lama lagi akan dipindahkan di kamar perawatan kelas tiga.”
“Ya, Dok saya setuju saja.”
“Baik, akan kami lakukan tindakan berikutnya.”
“Terima kasih, Dok.”
“Sama-sama, Bu.”
Lalu dokter itu masuk lagi ke ruang IGD. Wawan dan Ita tetap duduk di kursi besi tak jauh dari ruang IGD.
“Aku berhutang budi ke Pak Wawan, yang telah berperan menyelamatkan suami dan anakku. Kalau Pak Wawan tak menolong, mungkin nyawa suami dan anakku tak tertolong lagi. Sebab telat sedikit saja di bawa ke sini, bisanya sudah menyebar dan dapat merenggut nyawa keduanya.”
“Urusan mati hidupnya seseorang urusan Allah, Bu.”
“Ya, betul. Pak Wawan sudah berperan dengan usaha Bapak menolong suami dan anakku.”
“Itulah gunanya kita bertetangga, Bu. Harus tolong menolong.”
Karena terlihat beberapa orang perawat memindahkan suami dan anaknya ke ruang perawatan kelas tiga, obrolan Ita dan Pak Wawan terhenti. Mereka mengikuti perawat tersebut menuju ruang perawatan kelas tiga tersebut.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
