Hantu di Kampung Macan
Tantangan menulis 365 hari ke-1643 tanpa jeda
Hantu di Kampung Macan
Bagian 3
“Hei Semprul kalau mau mati, mati sajalah, jangan melibatkan saya. Kalau saya menabrakmu tadi saya bisa masuk penjara.”
“Maaf…maaf Pak. Saya janji tidak melamun lagi.”
***
Sekitar pukul 09.10 Joko sudah tiba di rumah Tegu. Lalu dia mengetuk pintu rumah Tegu dan mengucapkan salam setelah memarkirkan motornya tak jauh dari teras depan rumah sepupunya itu.
“Assalamualaikum.”
Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah yang sederhana itu. Di dalam rumah sepertinya tidak ada orang, sepi dan semua pintu dan jendela rumah masih terkunci rapat, lampu teras masih hidup. Lalu Joko mengucapkan salam yang kedua, lagi-lagi tidak ada jawaban.
Namun Joko tak putus asa, meski terlihat di dalam rumah itu tak ada penghuninya, Joko tetap mengucapkan salam yang ketiga kalinya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” jawab Tegu terdengar pelan sekali.
Lalu dia keluar dari kamarnya untuk membuka pintu depan rumahnya. Begitu pintu rumah terbuka, kagetlah Tegu melihat sepupunya sudah berdiri sejak tadi di depan pintu rumahnya.
“Aduuh…saudaraku, kalau mau ke sini mengapa tidak mengabariku jauh-jauh hari, agar aku bersiap menyambut kedatanganmu. Mari masuk.”
“Aku memang mendadak ke sini.”
“Maafkan aku telat membukakan pintunya.”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
