Bahagia itu Sederhana
Tantangan menulis 365 hari ke-1679 tanpa jeda
Bahagia itu Sederhana
Bagian 4
“Aku juga tak mau berpacaran dengan wanita penipu dan miskin seperti kau.”
“Pergi kau dari tempat ini, aku tak sudih lagi melihatmu.”
Setelah menyerahkan mobil yang diantarnya ke Ujang, sopir Sentot. Wasio langsung pergi meninggalkan rumah Sentot dengan perasaan campur aduk, antara perasaan sedih putus dengan Mila, emosi karena merasa ditipu Mila dan perasaan malu karena ketahuan berpura-pura menjadi anak orang kaya, padahal kenyataannya dia anak orang miskin.
***
Seiring berjalannya waktu, setelah peristiwa itu berlalu lebih dari setahun, muncul di dalam diri Wasio rasa rindu dan rasa ingin bertemu dengan Mila. Begitu juga yang terjadi pada diri Mila, rasa kerinduan dan ingin bertemu dengan Wasio selalu muncul saat dia hendak tidur, sehingga tidurnya terasa tak nyaman dan sering mimpi bertemu Wasio.
Karena tak kuat menahan rasa rindu dan tak sanggup menahan rasa ingin bertemu dengan Mila. Wasio memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Sentot buat menemui Mila.
Saat bertemu satpam rumah mewah itu, Wasio memberanikan diri untuk izin masuk buat menemui Mila.
“Maaf Pak, boleh tidak izin sebentar masuk ke rumah ini?”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
