Patah Hati
Tantangan menulis 365 hari ke-1674 tanpa jeda
Patah Hati
Bagian 3
“Begini…sebenarnya…sebenarnya…” kata Anton agak ragu-ragu menyatakan perasaannya ke Sceren. Sebelum kalimatnya tuntas, tiba-tiba ada siswa yang masuk ke ruang guru tersebut,
“Assalamualaikum Pak, Bu.” ujarnya memberi salam.
“Waalaikumsalam.” jawab Anton dan Sceren hampir bersamaan.
“Permisi Pak, Bu. Saya di suruh Pak Budi mengambil buku latihan kami, kelas X8 di meja beliau.”
“Oh…silakan, Nak.” ujar Sceren.
Begitu siswa tersebut pergi lagi ke kelas, Sceren bertanya ke Anton.
“Sebenarnya apa Pak?”
“Sebenarnya aku mencintai Bu Sceren. Maukah Ibu menjadi pacarku?”
Mendengar omongan itu lama Sceren terdiam, dia diam untuk mengumpulkan keberaniannya buat berbicara dengan Anton. Setelah terkumpul keberaniannya, lalu dia bicara dengan penuh kelembutan, yang dia prediksi akan membuat Anton terluka hatinya.
“Sebenarnya aku juga menyukai Pak Anton, namun maafkan aku harus menolak pacaran dengan Pak Anton.”
“Apa alasannya Ibu menolakku?”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
