Harapan yang Sirna
Tantangan menulis 365 hari ke-1693 tanpa jeda
Harapan yang Sirna
Bagian 2
Andi tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ketika mereka sedang berdua saja di balai desa, Andi memberanikan diri untuk nembak Melati.
“Dik Melati bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Boleh. Abang mau bertanya apa?”
“Adik sudah punya pacar atau belum?”
“Belum Bang. Sebenarnya ada seorang pemuda desa ini, yang mau mendekati Adik, tapi saya tak mau.”
“Kalau Adik, Abang jadikan pacar, mau tidak ya?”
“Abang serius mau menjadikan saya sebagai pacar Abang.”
“Serius.”
“Ketika Abang usai KKN di desa ini, Abang tak meninggalkan saya.”
“Tidak, Abang selamanya mau menjadi pacar Adik. Jika Abang sudah diwisuda, Abang akan melamar Adik.”
“Benarkah itu? Sungguh?”
“Abang janji.”
“Saya mau menjadi pacar Abang.” ujar Melati agak tersipu.
Mendengar itu, Andi langsung memegang tangan Melati dan meremas jari tangannya yang lembut, lalu berkata ke wanita yang dicintainya itu.
“Terima kasih Dik.”
“Ya, Bang. Sama-sama.
***
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan