Harapan yang Sirna
Tantangan menulis 365 hari ke-1699 tanpa jeda
Harapan yang Sirna
Bagian 8
Waktu terus berjalan, bulan berganti bulan, akhirnya setahun terlampaui, namun Andi tak kunjung datang menemui Melati. Tetapi Melati tetap sabar menanti kedatangan Andi, untuk menemui dan melamarnya.
Tahun kedua kemudian terlampaui juga, namun Andi tak kunjung datang juga. Akhirnya Melati nekat pergi ke kota mau menemui Andi di rumahnya sesuai alamat yang pernah diberikan oleh Andi ke dirinya. sebelum dia pulang ke kota.
Begitu tiba di alamat yang dituju, alangkah terkejutnya Melati melihat banyak karangan bunga dan ucapan turut berduka cita atas meninggalnya Andi Pratama Putera.
Mengetahui itu, Melati hanya bisa menangis mendapatkan orang yang dicintainya sudah meninggal dunia. Saat Melati sedang menangis tersebut, tiba-tiba ada seorang ibu yang baik hati dan penuh kelembutan mendekati Melati, lalu dia bertanya ke Melati.
“Kamu pasti, Nak Melati kan?”
“Benar Tante, ada apa ya?”
“Saya Maminya Andi. Anak Tante meninggal dunia, karena menderita kanker darah. Sebelum meninggal, dia selalu menyebut namamu. Bahkan dia pernah mengajak Tante untuk menemuimu di Desa Gelatik. Namun dokter yang merawatnya, melarang kami melakukan itu.”
Mendengar penuturan maminya Andi, Melati semakin menjadi menangisnya, maminya Andi ikut menangis juga. Karangan bunga yang jumlahnya ada puluhan, menjadi saksi bisu atas kesedihan yang mereka rasakan berdua saat itu.
Selesai
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan