Penyesalan
Tantangan menulis 365 hari ke-1691 tanpa jeda
Penyesalan
Bagian 6
“Kapan Abang pulang dari merantau.” kata Alisa saat dia bertemu dengan Arman.
“Belum lama, baru beberapa hari.”
“Wah…Abang sudah hebat sekarang ya? Sudah punya rumah besar dan bagus, mobil bagus, uang banyak.”
“Ya, Alhamdulillah. Itu semua titipan Allah.”
“Ajak aku jalan-jalan, Bang.”
“Jalan-jalan ke mana?”
“Ke kota untuk belanja-belanja.”
“Aku memang mau ke kota dengan Lisa, sebentar lagi.”
“Kok dengan Lisa, bukan dengan aku pacarmu.”
“Lisa itu calon istri Abang, kami ke kota untuk membeli semua keperluan pernikahan kami minggu depan.”
“Abang mau menikahi Lisa, bukan menikahi aku?” ujar Alisa agak cemberut.
“Kau mana mau menikah dengan Arman, dia kan anak penjual sayur keliling.” ujar Ibu Arman yang tiba-tiba muncul bersama Lisa hendak masuk ke mobil karena sudah siap berangkat ke pasar.
Mendengar omongan ibu Arman, Alisa tertunduk lesuh dan malu menahan kepedihan, karena orang yang pernah menjadi pacarnya mau menikah dengan orang lain.
“Kami pergi ke pasar dulu ya. Besok saya kirim undangan pernikahan kami, jangan tidak pergi ya.” ujar Arman membuat Alisa bertambah bersedih.
Omongan Arman itu membuat Alisa menjadi menangis, dia menyesal memutuskan hubungan cintanya ke Arman. Dia juga menyesal pernah menghina ibunya Arman. Namun penyesalan tidak ada gunanya semuanya sudah terjadi.
Selesai
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan