Hantu Air
Hari ke-1723
Hantu Air
Bagian 3
“Itulah Yah akibat makan kekenyangan jadi susah bangkit, makan itu tak boleh sampai kekenyangan sesuai ajaran nabi kita.” ujar Siti sang istri.
“Ya, Bu. Ayah mengerti, tapi sesekali tak apalah, kan jarang sekali menemukan pindang patin. Ayah sudah hampir lima tahun tak menikmati pindang patin.”
“Ngapo, di tempat Kakak tu dak katek apo yang jualan pindang patin?” tanya Marni.
“Mano adooo….” jawab Parman
“Pantes bae Kakak tadi, makannyo cak wong kesurupan.” canda Simin.
Sehingga yang ada di tempat itu semuanya tertawa. Sedangkan Parman hanya bisa tersenyum, sambil menahan perutnya yang kekenyangan.
Setelah sekian menit ngobrol dan istirahat di tempat Simin, Tono dan Tini diajak Budi dan Rudi mandi di sungai. Keduanya mau saja, meski keduanya tak pandai berenang, sebab di rumahnya mereka terbiasa hanya mandi di dalam kamar mandi.
“Tunggu kami, Kak Budi. Kami ganti pakaian dulu dan menyiapkan pelampung untuk mandi.”
“Ya, Dek.” jawab Budi.
“Kalau mandi beramai-ramai tak apolah, jangan mandi hanya beduo bae atau dewek an.”
“Kenapa Mang?” tanya Budi ke Simin.
“Di sungai itu ada hantu air, yang bisa nyulik anak kecil.”
Mendengar kata mamangnya, Budi sedikitpun tak percaya. Guru di SD-nya tak pernah mengajarkan ada hantu air di sungai.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan