Anak Durhaka
Hari ke-1985 tanpa jeda
Anak Durhaka
Bagian 2
“Bang…ini omongan saya terakhir kalinya untuk mengajakmu segera menikah. Apa susahnya sih kalau kita cepat menikah?”
“Mengapa kita harus buru-buru menikah sih? Kita ‘kan masih muda. Tunggulah setahun atau dua tahun lagi baru kita menikah.”
“Bukan masalah umur kita Bang, tapi ini menyangkut keinginan ibuku. Beliau sedang sakit-sakitan, takut tak bisa menyaksikan pernikahanku. Makanya beliau menyuruku segera menikah.”
“Aku belum siap sayang. Aku belum punya uang.”
“Kalau itu alasanmu, kau jual saja sebidang kebun peninggalan almarhum ayahmu untuk biaya pernikahan dan modal hidup kita kelak.” kata Dewi terus mendesak Leman pacarnya.
“Itu tak mungkin, ibuku pasti tak mengizinkan.” jelas Leman ke Dewi.
“Ya sudah…kalau begitu jangan menganggapku tak setia, kalau aku menikah dengan pria lain.” ancam Dewi.
“Kok begitu sayang?” tanya Leman mulai khawatir pacarnya akan menikah dengan pria lain.
“Ya aku terpaksa sayang akan melakukan itu, demi baktiku kepada ibuku. Aku tak mau menjadi anak durhaka.”
“Kau jangan menikah dulu ya dengan pria lain. Aku akan berusaha memaksa ibu agar mau menjual sebidang kebun kami.”
“Nah begitu seharusnya. Abang pertahankan cinta kita. Kalau benar-benar mencintaiku.”
“Baik sayang, aku pulang dulu untuk membicarakan itu ke ibuku.”
“Ya…Bang, aku juga mau pulang ke rumahku. Aku tak boleh lama-lama meninggalkan ibu yang sedang sakit.”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan