Hantu Tuan Tahar
Hari ke-2020 tanpa jeda
Bagian 7
“Siaaaap…Pak!” jawab warga yang hadir serempak.
“Kita harus bergerak cepat, sebelum Magrib kerjaan kita harus sudah beres.” jelas sang kades.
“Mengapa harus begitu Pak?” tanya Lazimin.
“Kalau sampai Magrib jenazah Tahar masih belum dimasukkan ke dalam peti dan belum dibuang ke dalam laut, dikhawatirkan malam ini hantu Tahar bisa gentayangan lagi, yang dapat memakan korban warga desa yang lebih banyak lagi.”
Mendengar omongan kepala desanya semua warga manut saja, mereka cepat bergerak. Bakda Asar segala yang harus mereka lakukan sudah hampir beres, kecuali satu yang belum beres. Mereka belum mendapatkan peti kayu jati untuk menyimpan jenazah Tahar.
“Pak kami sudah mencari keliling kota, namun tidak mendapatkan peti yang mau dibeli, bagaimana ini?” tanya Urip ke kades Bandar Agung.
“Kalau kita bikin peti sendiri jelas tidak keburu, gunakan toren air di rumah saya saja.” ujar kades Bandar Jaya.
“Ya, boleh. Terima kasih Pak.” ucap kades Bandar Agung.
Lalu kades Bandar Jaya ditemani pegawainya bergegas pulang ke rumahnya di desa sebelah untuk mengambil toren air itu.
Sekitar setengah jam berikutnya beliau dibantu warga desanya sudah tiba di tengah-tengah orang ramai yang ada di desa Bandar Agung membawa toren air dengan menggunakan mobil pick up. Selanjutnya semua warga yang hadir berjibaku melanjutkan kerja mereka yang belum selesai.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan