Lintah Darat
Hari ke-2102 tanpa jeda
.
Bagian 3
.
“Ayah tak mau harga diri ini diinjak-injak. Rupanya lintah darat itu belum tahu siapa Ayah.” ujar Rudi tambah emosi.
“Sarwan itu warga desa baru di desa ini. Dia itu pindahan dari kota, wajar dia tak tahu siapa Ayah.” ujar Warni istri Rudi mengingatkan agar suaminya tak melawan Sarwan.
“Makanya hari ini Ayah akan kenalkan siapa diri Ayah.”
“Jangan Ayah…jangan cari masalah….” Warni terus mencegah suaminya agar tak bentrok dengan Sarwan.
Namun Rudi tak mengindahkan omongan istrinya, setelah merasa parangnya sudah tajam dan membawa senternya, diam-diam dari pintu belakang rumahnya dia keluar rumah untuk menemui Umar, Wandi, Mahdi, dan Mamat yang merupakan tetangganya.
Setelah bertemu dengan empat orang tetangganya itu yang sedang mengobrol di bawah pohon kelapa, hendak bernego dengan Sarwan agar perahu motor mereka bisa diambil kembali, Rudi langsung berkata.
“Kalian tak perlu bernego lagi dengan lintah darat itu, sia-sia saja. Lintah darat itu tak punya hati. Baiknya tolong aku saja menghabisi Sarwan dan centeng-centengnya.”
“Sebaiknya jangan Pak.” ucap Mahdi.
“Kita gunakan cara nego saja Pak.” ujar Umar.
“Ya Pak, tak usah pakai kekerasan.” kata Wandi.
“Ya Pak, kalau kita membunuh lintah darat itu dan centeng-centengnya, kita bisa masuk penjara, Pak.” Mamat ikut berbicara.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan