Mendadak Kaya
Hari ke-2088 tanpa jeda
.
Bagian 2
.
Puas menangis, dia pulang ke pondoknya yang sederhana yang terletak di ujung desa. Tiba di pondoknya, ibunya yang sudah tua menegurnya.
“Matamu kenapa merah? Kamu baru saja sudah menangis ya?”
“Ya Bu.”
“Lho, mengapa menangis Nak? Kau teringat dengan almarhum ayahmu yang baru meninggal ya?”
“Bukan Bu. Aku sedih karena Mila memutuskan aku.”
“Tak perlu sedih Nak. Berpikir positif saja, mungkin Mila itu bukan jodohmu.”
“Tapi…aku sangat mencintainya, Bu.”
“Untuk apa mencintai Mila yang tidak mencintaimu, Nak. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dari Mila di desa kita ini.”
“Mereka mana mau padaku, Bu. Mila saja tega meninggalkan aku.”
“Mengapa Mila meninggalkanmu?”
“Karena aku miskin Bu. Tak memiliki sepeda motor.”
“Sudah lupakan saja semuanya. Nanti kalau kau sudah kaya, banyak wanita yang mau denganmu.”
“Aku kepingin kaya, Bu. Caranya bagaimana?”
“Kau harus bekerja keras, Nak.” ucap Titi sang ibu.
Setelah Titi berkata begitu, keduanya diam tenggelam dengan pikiran masing-masing, di dalam pondok mereka yang sederhana. Akhirnya Pudin tertidur di atas tikar yang terbentang dalam pondok.
Melihat anak tunggalnya tertidur, Titi juga akhirnya mau tidur. Lalu dia berbaring di samping anak kesayangannya itu.
***
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan