Patah Hati
Hari ke-2183 tanpa jeda
Bagian 4
“Kita senasib, sama-sama mengalami kehilangan. Abang kehilangan pacar, saya kehilangan ibu dua hari yang lalu.”
“Oh…aku turut berduka atas musibah yang menimpamu.” ucap Sunil yang membuat Meilani semakin simpati.
“Terima kasih, Bang. Ngomong-ngomong nama Abang siapa sih?”
Sunil langsung menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Meilani gadis cantik keturunan Tionghoa.
“Sunil.” ucap Sunil saat bersalaman dengan Meilani.
“Meilani.” jawab Meilani sambil tersenyum.
Usai berkenalan itu, antara Sunil dengan Meilani sudah tidak kaku-kaku lagi untuk ngobrol, mereka terlihat seperti sudah kenal lama. Selama dalam perjalanan yang membosankan itu mereka terus mengobrol, agar bisa membunuh waktu sehingga perjalanan mereka tak terasa lama.
Tanpa diduga-duga Meilani bertanya ke Sunil, “Abang keturunan Tionghoa ya, kok matanya sipit?”
“Oh…karena mataku sipit aku dikira keturunan Tionghoa ya?”
“Iya…Karena aku juga keturunan Tionghoa dan sudah muslim, karena ayah dan almarhumah ibuku sudah belasan tahun mualaf.”
“Aku bukan keturunan Tionghoa. Namun meski kita berbeda ras, aku berharap tidak menghalangi kita untuk akrab berteman, apalagi kita sama-sama orang islam.”
“Iya aku setuju dan sependapat denganmu.”
Setelah ngomong seperti itu keduanya agak lama berdiam diri, mungkin keduanya sudah kehabisan bahan untuk ngobrol atau sedang berpikir mau ngomongi apalagi buat obrolan mereka.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan