Indah Pada Waktunya
Hari ke-2317 tanpa jeda
Bagian 5
.
Tak berapa lama setelah itu, Amir memanggil teman-temannya lalu pergi meninggalkan kebun kakekku menaiki empat sepeda motor. Suara raungan knalpot motor mereka memekakkan telinga, kemudian suara itu makin menjauh lalu tidak terdengar lagi, bersamaan dengan itu kakek terbangun dari tidurnya, tidur di pondok yang bertiang tinggi, yang terbuat dari kayu yang beratapkan terpal untuk melindungi dari panasnya matahari dan guyuran hujan.
“Rio temanmu sudah pulang ya? Maafkan kakek ketiduran, karena semalam kurang tidur, sibuk memungut buah durian yang sudah jatuh dari pohonnya, kalau tidak segera dipungut takut dicuri orang atau dilobangi tikus buah durian tersebut.”
“ Ya. Kek.”
“Mereka tidak pamit ya?”
“Bagaimana mereka mau pamit, kakek saja tertidur tadi.”
“Oh ya, ya!” kata kakek tersenyum malu.
Setelah kejadian itu, besok harinya ketika habis upacara hari Senin, Amir dengan temannya yang tergabung dalam geng Kumbang Hitam mulai menerorku dengan mengolok-olok serta berkata kasar. Menyadari sebentar lagi mau EBTANAS, dan mereka juga orang banyak sedangkan aku sendirian, aku tidak melayani mereka, aku diam saja.
Terpikir olehku kalau dilayani, itu perbuatan konyol, aku pasti dikeroyok dan dihadang oleh mereka di tempat sepi lalu dicelakai, kalau terjadi apa-apa denganku sudah pasti aku tidak bisa ikut EBTANAS, aku mengambil keputusan mengalah saja, agar lebih aman.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan