Menggapai Kehidupan di Perantauan
Hari ke-2324 tanpa jeda
Bagian 2
.
Dalam perjalanan pulang ke tempat kontrakan terpikir olehku untuk pulang ke desa saja, tapi akal sehatku mengatakan jangan pulang, karena aku sudah terlanjur membayar uang kontrakan untuk setengah tahun, kalau aku meninggalkan kamar kontrakan, uang yang sudah kubayar tidak dikembalikan oleh pemilik kontrakan. Lagi pula apa kata tetanggaku di desa sudah sarjana masih menganggur dan juga pasti aku diajak oleh orang tuaku kerja di sawah menanam padi, sebab waktu itu lagi musim menanam padi.
Di saat aku lagi banyak berpikir menimbang-nimbang mau mengambil keputusan untuk langkahku berikutnya, tiba-tiba aku melihat cewek cantik seumuranku yang lagi kebingungan, karena mobilnya mogok. Tidak ada modus apa-apa aku berniat mau menolong, karena aku memang tipe pria yang suka menolong.
“Ada masalah apa Mbak?” kataku dengan nada penuh simpati.
“Tidak tahu nih, tiba-tiba saja mobilku mogok.”
“Boleh aku tolong?”
“Oh dengan senang hati, silakan Mas,” kata cewek cantik yang sepertinya anak orang kaya dan kolokan itu. Lalu aku menyuruhnya membuka kap mesin mobilnya. Setelah kap mesin terbuka, aku perhatikan kabel-kabel penghubung mesin dengan aki lalu aku kencangkan bautnya, setelah itu aku perintahkan cewek cantik itu menstater mobilnya, ternyata mesin bisa dihidupkan. Lalu cewek itu turun dari mobilnya bermaksud mau memberiku uang, dengan selembar uang lima puluhan ribuan.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan