Penyesalan
Hari ke-2421 tanpa jeda
Bagian 15
Untuk mewujudkan keinginannya itu, Sadikin sengaja mengajak Tania sang anak ke ruang kerjanya di kantor, agar pembicaraan mereka tak didengar oleh orang lain.
“Tania Papa lihat sepertinya kau sudah cocok dan akrab dengan Ali.”
“Memangnya ada apa Pa?”
“Papa berharap kalian segera menikah.”
“Menikah…Pa? Pacaran saja kami belum.”
“Menikah itu tidak mesti harus didahului dengan pacaran.”
“Tapi Pa, Ali itu belum pernah mengungkapkan perasaannya denganku.”
“Rasa cinta itu tak harus diungkapkan dengan kata-kata, cukup dirasakan.”
“Bagaimana caranya Pa, untuk mengajak dia menikah?”
“Kau pancing Ali dengan ajakan menikah.”
“Tak lazim Pa, wanita duluan yang mengajak.”
“Jangan pikirkan lazim atau tidak, yang harus kau pikirkan Papa kepingin cepat menimang cucu.”
“Baik Pa. Akan aku ajak Ali jalan-jalan, dan akan kusampaikan kemauan Papa.”
“Jangan lama-lama ya Tania. Bertindaklah yang cepat.”
“Insyaallah Pa.”
***
Beberapa hari kemudian Tania kembali mengajak Ali jalan-jalan. Kali ini mereka mengunjungi Papodao Cafe. Tempat ini memang banyak didatangi anak muda. Begitu masuk ke cafe ini, Tania langsung mengajak Ali duduk di pojok, agar mereka leluasa untuk ngobrol.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan