Penyesalan
Hari ke-2422 tanpa jeda
Bagian 16
Baru saja mereka duduk di tempat itu, pegawai kafe sudah menanyai pesanan keduanya. Tania memesan makanan dan minuman kesukaannya, sedangkan Ali memesan makanan dan minuman yang sama seperti yang dipesan oleh Tania. Tak menunggu lama pesanan keduanya sudah terhidang. Sambil menikmati pesanannya, Tania memulai obrolannya.
“Bang sengaja aku mengajakmu ke sini, ada hal penting yang aku mau sampaikan.”
“Hal penting apa?”
“Menyangkut masa depan kita.”
“Sampaikanlah, aku siap menjadi pendengar yang baik.”
“Papaku menyukaimu, dan berniat menyuruh kita segera menikah.”
Mendengar omongan Tania bukan main senangnya Ali, keinginannya untuk menyatakan cinta ke Tania yang belum terlaksana, karena belum punya keberanian, sudah ada jalan keluarnya. Ali tak perlu repot lagi menyatakan cintanya.
“Kamu mau tidak?” tanya Ali yang bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Aku sih mau saja menikah, kalau Abang bersedia menikah denganku.” jawab Tania agak malu.
“Aku juga mau, tapi…” kata Ali ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
“Masalah uang untuk biaya pernikahan kita jangan Abang pikirkan, semuanya papa yang tanggung.”
“Aku mau dan setuju.”
“Papaku maunya kita menikah secepatnya.” kata Tania lagi.
“Semakin cepat semakin baik” jawab Ali meyakinkan Tania.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan