Pertemuan yang Menyakitkan
Hari ke-2398 tanpa jeda
Bagian 2
Pupuslah sudah harapan Deni yang sudah merencanakan pagi itu untuk mengantar tunangannya ke kantor, dengan menggunakan mobil Fortunernya, yang sudah lama tersimpan di garasi rumah orang tuanya. Karena ketika ia melihat jam tangan mahalnya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.25 wib.
Deni menyesal sekali kenapa ia tidak mengabari seorangpun tentang kepulangannya pagi itu kepada siapapun termasuk ke Luna. Niatnya semula semata ingin bikin kejutan. Tetapi kenyataan yang didapatnya adalah kekecewaan.
Ia tidak bisa menyalahkan siapapun dengan kemacetan yang ia alami. Menyalahkan pemerintah tidak tepat, karena pemerintah sudah berusaha membangun infrastruktur jalan sesuai kesanggupan keuangan negara, cuma karena pelebaran dan penambahan jalan saja yang tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan yang melintasi di jalan yang ia lewati pagi itu.
Mau menyalahkan orang-orang yang beli mobil tidak tepat juga, siapapun bisa beli mobil selagi mampu membeli, karena tidak ada larangan membeli mobil di Indonesia.
Menyalahkan pak sopir taksi, tidak tepat juga karena beliau juga sebagai korban, jadi mau menyalahkan siapa? Mau marah dengan siapa? Terpikir terus menerus di benak Deni, sehingga menjadikan pikirannya kacau tidak keruan.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan