Penyesalan
Hari ke-2424 tanpa jeda
Bagian 18
Lalu dia bangkit dari tempat tidurnya merenung dan berpikir, aku tak boleh terus-terusan bersedih. Kalau sedih yang kurasakan kuturuti, aku bisa saja menyusul papa ke alam sana. Aku harus bangkit, aku harus menyayangi hidupku, karena setidaknya aku punya dua orang yang kusayangi, suamiku dan anak dalam kandunganku. Tapi bagaimana caraku agar bisa melupakan kesedihanku. Solusinya aku harus berlibur dalam jangka waktu yang lama meninggalkan rumah mewah ini. Liburnya kemana ya? Sebaiknya aku minta pendapat suamiku.
Keesokan paginya saat suaminya terbangun, Tania langsung minta pendapat suaminya.
“Pi untuk menghilangkan kesedihanku, aku harus berlibur. Tapi aku bingung mau liburan ke mana?”
“Bagaimana kalau kita liburan ke desa kelahiranku saja, Mi?”
Tanpa berpikir panjang lagi, Tania berkata ke suaminya.
“Aku setuju Pi, sekalian aku mau berkenalan dengan ibu.”
Hari itu juga Tania mesan tiket pesawat untuk penerbangan siang ke Palembang lewat aplikasi yang ada di smartphone-nya. Setelah mendapatkan tiket, keduanya langsung mempersiapkan pakaian dan barang yang akan dibawa. Usai itu, Ali diantar supir pribadinya pergi ke kantor untuk menandatangani dokumen di kantor yang belum selesai ditandatanganinya kemarin, Ali juga menunjuk orang kepercayaan almarhum mertuanya, untuk menjalankan tiga perusahaan selama dia libur bersama istrinya.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan