Naraya
Naraya memeluk tubuh ayahnya melepas rindu, seraya berguman sedih menyatakan keluh kesahnya akan rasa bersalah yang membuat mereka berpisah. Makhluk yang menyerupai ayahnya tersebut hanya diam sesekali kepalanya mengeleng dengan tatapan yang kosong. Naraya terus bercerita tentang hal-hal yang seharusnya mereka bicarakan secara terbuka bersama. Naraya menumpahkan segala pendapatnya tentang perjanjian yang telah disepakati bersama makhluk berbahaya tersebut.
Naraya terus berceloteh namun lagi-lagi tidak ditanggapi oleh ayahnya, malah hawa dingin semakin merebak. Naraya sebenarnya menyadari akan hal tersebut akan tetapi dirinya mencoba menepis prasangka. Hari memang telah larut malam, suasana di hutan ini makin mencekam dan menakutkan. Suara burung hantu yang bersahutan ditambah suara kodok menjejal malam pada rawa yang gelap dan hampa.
Semua berjalan dalam ikatan waktu yang terus bertambah dan dirinya terus merayap pada kisah indahnya yang pilu. Naraya baru saja akan mengajak ayahnya mencari sang ibu akan tetapi tangan sang ayah terasa semakin dingin baru menyadarkannya jika sesuatu yang diluar kuasa dan tak kasat mata itu mulai mengelilingi mereka. Naraya sedikit kaget namun dia terlalu cerdas untuk mengalah kepada makhluk tersebut.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
