Naraya
Malam merangkak naik dan tak lama akan mencapai puncak untuk tergelincir. Mereka masih berjalan menelusuri jalan setapak yang awalnya lebar namun semakin ke dalam jalanan itu semakin menciut. Setelah menemukan sungai yang lumayan besar dengan arusnya deras, mereka berdua memutuskan untuk istirahat. Beberapa teguk air membasahi kerongkongan keduanya yang mengering semenjak kejadian tadi keduanya belum sempat menelan apapun.
Naraya memperhatikan setiap sudut yang menurutnya sangat aneh karena tak terdapat bayangan makhluk atau benda apapun. Naraya meminta Pak Sarwo menghidupkan api guna memanaskan tubuh mereka berdua. Sekaligus menjaga malam dari dingin, Naraya mengganti pakaiannya dengan pakaian kering. Dan Pak Sarwo segera membantu menghangatkan suasana. Dalam perjalanan waktu Pak Sarwo juga menyadari bayangan dirinya juga telah hilang.
Ketakutan yang diciptakan oleh alam ternyata tak mempengaruhi mereka, karena pesan yang disampaikan kembali terdengar oleh keduanya. Suara-suara yang terdengar setengah bebisik semakin besar dan membuat pendengaran mereka mulai terganggu. Naraya mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, matanya mencari-cari alat pemotong. Setelah berhasil membuat bagian yang lebih kecil, Naraya menutup telinganya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
