Naraya
Naraya membuka matanya lebar-lebar dan melemparkan pandangannya ke sekeliling dengan seksama. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa berat, serasa dihantam palu raksasa. Naraya mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat dirinya bersama Pak Sarwo tergulung angin besar yang awalnya mereka kira adalah puting beliung. Beruntung tambang kuda yang sengaja dilepas Pak Sarwo akhirnya melekatkan tubuh mereka pada sebatang pohon.
Naraya menggeser tubuhnya lebih ke kanan danbermaksud bangkit, akan tetapi usahanya itu gagal. Tubuhnya tak dapat digerakkan sama sekali. Hawa dingin menyeruak masuk menembus ke dalam tubuhnya yang dibungkus pakaian apa adanya. Pakaian yang dia pakai telah rusak, compang camping. Naraya menggigil kedinginan, tubuhnya kesakitan dan gadis itu merasakan hal lain pada dirinya. Naraya memanggil kusirnya Pak Sarwo, laki-laki tua kekar penjaganya itu tak terlihat dimana pun.
Naraya kembali mencoba bangkit, dengan susah payah gadis itu mengeluhkan luka disekejur tubuhnya yang membiru akibat lebam. Akhirnya berkat usaha yang gigih Naraya mampu bangkit, saat tubuhnya berangsur duduk baru dia menyadari jika dirinya terbaring di atas batu sungai yang licin dan bersih. Di samping tempat dia berbaring mengalir mata air sedalam mata kaki. Sementara pakaian yang dia pakai telah hancur dan tak mampu menutupi bagian tubuhnya dengan sempurna.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
