Oria Lasmana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Naraya

Naraya

Mereka memasuki hutan larangan setelah Pak Sarwo meletakkan beberapa pemuja dan doa. Naraya tidak yakin hal tersebut akan berdampak bagi kelanjutan perjalanan mereka. Namun Naraya sangat menghormati keinginan Pak Sarwo. Mereka berdua berjalan dengan mantap dan fokus pada tujuan adalah pesan yang diterima dari sesepuh desa. Pemilik hutan larangan akan mendampingi mereka hingga mencapai tujuan jika keduanya tetap fokus pada tujuan.

Naraya tidak memperdulikan suara bisikan yang selalu berkecamuk membelah pikirannya. Panggilan yang terakhir menyerupai suara ibunya. Kerinduan akan kasih sayang dan bayangan masa kecil yang penuh kasih benar-benar nyata dihadapannya. Naraya melihat bayangan ibunya diantara pepohonan tinggi yang berdiameter sepuluh kali besar tubuhnya. Wanita paruh baya yang penuh kasih melambaikan tangan kepadanya.

Ibunya masih memakai kebaya hijau terang dengan perhiasan yang seadanya namun terkesan sangat elegan. Naraya melihat sanggul ibunya yang berantakan membuat beberapa helai rambut jatuh menutupi wajahnya. Naraya menatap mata yang kelam, hitam gelap dan tanpa cahaya itu dengan tajam. Dia menemukan kekosongan di sana, gadis itu menundukkan tatapannya. Naraya makin penasaran dengan sesuatu di depannya karena terus menggoda padahal sudah tahu jika identitasnya sudah diketahui.

Bersambung...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post