Naraya
Matahari tidak lagi menyinari bumi dengan kuat, namun hari masih sore. Perjalanan mereka masih seujung jagung, daerah sekitar makin terasa lembab. Saat bersamaan bayangan yang menyerupai ibunya mendadak lenyap. Naraya terus mencari bayangan ibunya yang larut dalam kepekatan hutan larangan yang sulit ditembus. Didekat perempatan yang ditutupi akar pohon dan lumut hijau mereka diganggu kembali, kali ini sosok sang ayah menggangu fokus mereka.
Pak Sarwo semakin khawatir dengan gangguan ilusi tertuju pada Naraya. Pak Sarwo terus mengingatkan Naraya agar tetap fokus karena mereka tak akan pernah sampai ke ujung jika gangguan terus berhasil membuatnya berhenti dan mengenang kembali masa lalu yang akan mengaduk perasaan. Di sisi lain Naraya tak mampu menguasai hatinya akibat rasa bersalah pada ayahnya. Dalam kesedihan yang mendalam kembali fokusnya beralih pada masa lalu.
Pak Sarwo yang mengetahui kondisi Naraya berupaya menyadarkannya, gadis itu sudah terlambat untuk dipanggil kembali. Roh Naraya seperti pergi meninggalkan raganya, dia benar-benar tak mampu melewati gangguannya kali ini. Keduanya, ayah dan anak kembali mengenang masa lalu dimana keluarga mereka masih harmonis. Sepenggal demi sepenggal kenangan tersebut kembali dalam perjalanan malam Naraya dan ayahnya saling berbagi kerinduan.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
