Naraya
Kakinya terasa pegal dan dahaga kembali naik dan membuat keinginannya untuk berhenti dan meneguk segelas air saj sudah cukup membuat kesadarannya tetap ada. Panas dan kehilangan arah membuat otaknya kaku, tak peduli akan penampilannya yang tak menentu dengan rambut yang acak acakan perempuan paruh baya tersebut terus berjalan. Matanya terus mengawasi keadaan sekeliling dan tangannya terus siaga. Kedua tangannya penuh dengan luka dan darah yang mengering terlihat jelas. Dan dia merasa sakit dan perihnya sudah hilang meskipun kedua kakinya pun tak jauh berbeda dengan kondisi tangannya yang penuh dengan luka.
Perempuan itu tiba-tiba berhenti, raut wajah yang semula tenang kembali kusut dan dia kaget. Ketika dirinya kembali ketempat dimana dia memulai, entah sudah berapa kali mengulang dan dirinya semakin letih dan keringatnya yang belum berganti. hatinya kembali ciut dan nalarnya tak kuasa menahan sedih, air mata keputus asaan keluar membasahi pipi. Perempuan itu memilih duduk kembali, mengikat rambutnya sambil mengolesi lukanya dengan dedaunan tumbuhan yang bisa membantu mengeringkan luka serta mencegah infeksi. Dia sangat lelah dan energinya terkuras habis, memang belum ada hewan atau makhluk berbahaya yang menyerangnya, tapi tubuhnya hampir kering karena dehidrasi.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
