Naraya
Mereka menyantap buah-buahan dan daging kelinci sambil menceritakan langkah apa yang akan mereka tempuh ke depannya. Naraya menyimak dan sesekali menyampaikan analisanya dengan beberapa pertimbangan termasuk cuaca yang tidak menentu dan hutan yang luas, menimbulkan kekhawatiran pada diri Naraya. Mereka seperti meraba-raba dalam gelap dan seolah tanpa arah sebab hutan larangan ini kawasannya cukup luas.
Saat matahari mulai tergelincir, dan perut dirasa sudah kenyang mereka melanjutkan langkah ke dalam hutan. Suhu terasa menurun meski matahari masih berbagi sinar dengan lebat dan rapatnya hutan. Namun mereka memutuskan untuk tetap lanjut dengan persiapan obor dan penerangan sekedarnya. Pak Sarwo meminta Naraya untuk senatiasa memperhatikan langkahnya dan membuat tanda di setiap jalan yang mereka lalui. Kali ini Naraya memasang tanda lebih banyak karena pohon semakin rapat.
Malam yang mulai muncul dan udara yang dingin membuat perjalanan mereka terpaksa dihentikan, saat menemukan pohon yang berukuran sebesar paha dewasa Pak Sarwo meminta Naraya naik ke dahan yang paling tinggi untuk beristirahat dan sekaligus menyembunyikan dirinya dari serangan monster malam yang sangat ganas. Sementara Pak Sarwo mengumpulkan ranting pohon membuat api unggun yang akan mengelilingi mereka.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
