Naraya
Setelah sedikit mengabaikan situasi dan memilih memejamkan mata sejenak dan melepaskan kelelahan yang memeluk mereka dalam malam dingin yang panjang. Naraya kehilangan dirinya selama tiga jam namun saat terbangun matahari sudah muncul malu-malu dan tampak menari dihadapannya denga lincah. Kibasan selendang sang penari berpindah dari satu pucuk pohon yang satu ke pohon yang lain. Malam yang panjang telah terlewatkan dengan nyaman baginya seolah tak ada rintangan bagi mereka berdua.
Setelah membasuh muka sekedar membersihkan wajah dan menggosok gigi, gadis itu mengepang rambutnya. Naraya turun ke lembah yang lebih ke basah dengan bau rumput basah yang khas. Matahari menerangi paginya yang sangat sepi. Pak Sarwo masih sibuk dengan perkayuan dan ikan bakarnya yang berhasil dia tangkap guna mengenyangkan perut mereka berdua. Naraya berlalu saat mengetahui mereka tidak memiliki makanan yang cukup untuk enegi mereka pagi ini.
Naraya nemepis lamunanya setelah mencapai tempat yang agak tinggi dan dari sana terlihat pemandangan indah dari surga dunia yang berwarna serba hijau. Hatinya terenyuh dan sedikit bersyukur akan pentingnya sebuah kesempatan meskipun kesempatan itu mengantarkan dirinya menuju gerbang maut. Naraga mengingat masa kecilnya bersama kedua orang tuanya, dalam kasih sayang yang nyata. Keadaan tersebut menjadi langka kini karena keluarga kecil mereka sudah tak lengkap lagi.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
