Naraya
Naraya tidak merasakan apapun, sakit pun tidak dan tak ada luka atau cairan merah yang mengalir dari pori yang terluka atau daging yang tersayat. Saat membuka matanya Naraya menyaksikan sesuatu yang mengerikan dan membuat bulu kudu berdiri. Makhluk tersebut berdiri sempoyongan dan hampir jatuh begitu dada bagian kanannya menancap tombak sakti milik Naraya yang kini mencari sasaran yang tepat bagi keselamatan majikannya.
Sementara apa yang dilakukan Pak Sarwo jauh lebih kejam menurutnya, menganyunkan pedang yang sebesar itu dan menyebabkan tangan kanan makhluk tersebut nyaris putus. Luka yang menganga sepanjangnya membuat cairan berwarna merah tersebut mengalir seperti sumber mata air. Beberapa saat makhluk itu meraung kesakitan, Naraya mendengar suaranya perlahan turun dan mengecil lalu akhirnya hilang. Seketika dunia bergetar saat wajah menyeramkan juga ikut memudar dan muncul kembali wujud aslinya.
Naraya ingin memastikan makhluk tersebut mati, agar tidak banyak hal jelek lagi yang dilakukan. Sekalian menghilangkan rasa cemas dari dalam hatinya jika saja suatu masa dia kembali. Naraya menarik tombaknya dan melemparnya ke arah jantung makhluk tersebut dengan sebuah doa melepaskan ikatan dari majikannya yang jahat. Aura mistis terasa jelas dan gadis itu menyerahkan kembali keputusannya kepada takdir.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
