Naraya
Mereka terus mengawasi keadaan sekitar, ada rasa tidak nyaman akan tetapi hal tersebut harus ditepis agar suasana menjadi lebih bersahabat. Malam yang semakin larut dengan perputaran angin yang stabil membuat segalanya mungkin terjadi. Pak Sarwo membuat jadwal berjaga bagi mereka bertiga, untuk mempertahankan kesehatan dan kewarasan. Naraya memilih berjaga dahulu sambil berdiskusi dengan Pak Sarwo untuk langkah-langkah mereka kedepannya.
Pak Sarwo dan Naraya mengurai kembali peristiwa-peristiwa yang mereka alami dahulu, dengan mengandalkan memori mereka bisa mendapatkan pintu masuk ke dalam hutan laragan tersebut. Naraya bahkan mencatat beberapa hal penting yang masih tersimpan dalam ingatannya. Namun dia gagal, Pak Sarwo menambahkan beberapa hal yang dirinya ingat dan hasilnya mereka tetap tidak menemukan titik terang. Sementara waktu terus berjalan dan sepertiga malam telah berlalu dan hawa dingin menusuk hingga ke tulang.
Perempuan istri penjaga bersiap menggantikan Naraya, Naraya memilih mengikuti saran Pak Sarwo untuk naik ke atas pohon dan mencoba memejamkan matanya. Baru beberapa saat berhasil memejamkan matanya Pak Sarwo membangunkan Naraya dan mengajaknya berpindah ke dahan yang lebih atas. Ketiganya naik dengan terburu-buru begitu mereka mendapati monster jahat yang dahulu menyerang mereka di gua kini berdiri bergabung bersama makhluk-makhluk gaib di sekeliling api unggun.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
