Naraya
Naraya melihat sosok Pak Sarwo yang terbaring lemah dengan tubuh yang penuh luka, gerakkan di dadanya terlihat sangat lambat. Naraya belum berani mengambil tindakan, karena altar dari batu itu tidak mungkin dibuat tanpa pengaman. Naraya menghitung waktu dan keterampilannya itu ternyata sangat dibutuhkan saat ini. Gadis tersebut berjalan dengan langkah pelan dan mengurangi celotehan memberi tanda kepada dirinya sendiri setiap kawasan yang dia lalui.
Sesampainya di dekat Pak Sarwo, Naraya memeriksa semuanya. Hatinya terluka saat melihat apa yang terjadi pada Pak Sarwo. Dengan perlahan diambilnya pisau dan diputuskannya keempat tali pengikat tubuh Pak Sarwo. Pak Sarwo membalikkan badan saat ikatan pada kedua tangan dan kakinya dilepaskan. Naraya terpekik perlahan, dibawah altar itu banyak terdapat lintah. Sebagian besar jatuh dari punggung Pak Sarwo dalam kondisi kenyang dengan badan yang membulat. Naraya tak bisa berhenti menangis melihat penyiksaan yang dihadapi Pak Sarwo.
Gadis itu membantu Pak Sarwo duduk dan mulai melepaskan lintah yang masih menempel. Syukurlah tanaman penghenti pendarahan sempat dia koleksi tadi sepanjang perjalanan penyelamatan diri. Naraya mengunyah daun tanaman tersebut dengan cepat membiarkan salivanya menyatu lalu menempelkan pada luka bekas gigitan lintah yang lumayan banyak. Pak Sarwo hanya mampu meringis menahan rasa sakit yang terus saja menyertai perjalanan mereka.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
