Naraya
Mereka bertiga menelusuri jalan setapak dengan santai tapi masih dengan kewaspadaan penuh. Sungai yang tenang mengalir membelah hutan larangan. Beberapa bulan yang lalu Naraya dan Pak Sarwo punya kenangan yang kurang menyenangkan. Mereka mengetahui tidak begitu saja sembarangan orang dapat masuk ke dalam hutan larangan. Persiapan waktu itu cukup dibantu dan diarahkan oleh sang penjaga namun kali ini mereka mengharapkan pada kemampuan diri sendiri.
Mereka masih berputar-putar di pinggir hutan larangan, pintu masuk ke dalam hutan larangan masih belum terlihat. Matahari mulai tergelincir dari singgasananya dan perjalanan mereka mesti dihentikan karena malam adalah waktu yang tidak bersahabat bagi manusia. Pak Sarwo menemukan tempat yang aman dan nyaman bagi mereka bertiga untuk bermalam dan tentunya memasang api unggun. Pak Sarwo membuat api unggun dan membentuk lingkaran.
Sementara Naraya mencari pohon yang akan mereka jadikan tempat bermalam, setelah semuanya selesai ketiganya memilih bersiap diri di atas pohon yang dekat dengan api unggun. Perempuan itu tenggelam selama beberapa waktu dengan kembang-kembang digelar memenuhi permukaan tanah. Api unggun yang dihidupkan Pak Sarwo membuat suasana semakin terang sehingga mereka dapat melihat makhluk-makhluk gaib yang mengikuti mereka semakin banyak dan kini berada di sekeliling api unggun.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
