Naraya
Naraya kembali melanjutkan hidup, gadis itu mencoba mengalihkan perhatiannya sejenak dari hal-hal yang merusak kewarasannya. Naraya mengumpulkan aktivitas positif dengan kemampuannya yang dimiliki sebagai bekalnya untuk berbuat baik ke depannya. Perbuatan baiknya ini akan menjadi cadangan energi saat kembali. Dalam masa penantian mereka, bagi Pak Sarwo menjadi masa penyembuhan dan persiapan. Kesempatan tidak akan datang ketiga kalinya, maka kesempatan kedua menjadi alternatif terakhir yang ditempuh untuk menjalani pertarungan sekali lagi.
Dua minggu berjalan dan kekuatan fisik dan emosional keduanya mulai membaik, hingga malam hari yang hujan deras mereka kedatangan tamu. Naraya yang berada di rumah utama terbangun oleh suara ketukkan pintu kamar dan suara panggilan. Ketika membuka pintu yang muncul adalah pelayan pribadinya yang mengatakan ada tamu meminta bertemu dengan Naraya dan Pak Sarwo. Kebetulan Pak Sarwo telah dibangunkan oleh pelayan lainnya.
Mereka menuju pendopo yang terletak dibagian tengah dari bangunan yang berdiri dengan anggun mempesona. Penerangan yang tadinya sudah mati akibat kencangnya angin kembali di hidupkan oleh para pekerja, dan mereka segera meninggalkan ketiga orang tersebut. Ketiganya tampak tegang dan saat cahaya terang Naraya melihat wujud asli perempuan itu. Istri penjaga hutan larangan kini berdiri dihadapan mereka dengan luka disekujur tubuhnya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
