Naraya
Makhluk-makhluk berbagai ukuran dan bentuk berkumpul dalam jumlah yang besar di tapal batas desa. Mereka berusaha untuk memasuki desa dengan merobek tabir pelindung yang dibuat oleh Pak Sarwo. Naraya dan Pak Sarwo menunjukkan wajah ngeri saat melihat bagaimana semuanya berupaya menyerang desa tersebut. Bahaya yang tak kasat mata dan hanya akan disadari oleh orang-orang tertentu, sementara banyak warga yang tak tahu apa-apa dan tak melihat keberadaan mereka akan menjadi korban.
Pak Sarwo memutar kerisnya mengayun-ayunkan membanetuk lingkaran yang semakin lama semakin besar. Lingkaran itu terus membesar dan mendorong makhluk-makhluk tersebut keluar dari batas tapal yang semakin tergeser. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya dan aura kecemasan semakin terlihat jelas, namun Naraya tak tinggal diam gadis itu serta merta menancapkan tombaknya ke tanah. Kedua tangannya tengadah dan mulai berdoa untuk keselamatan mereka.
Makhluk gaib tersebut belum juga meninggalkan tapal batas meskipun Naraya dan Pak Sarwo sudah menggunakan segenap daya dan upaya yang mereka ketahui guna mengusir semuanya dari desa. Sehingga pada satu keputusan yang didasari perasaan bahwa makhluk tersebut menginginkan perempuan tersebut. Barangkali hanya perempuan istri sang penjaga hutan larangan yang dapat memberikan jawaban dari kejadian ini. Maka mereka berdua segera berlari menuju kediaman Naraya kembali.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
