Naraya
Mereka luput jika bahaya sekarang berada di depan mata, wanita itu melangkah dengan pasti memegang sesuatu yang sepintas menyerupai jaring dan rantai. Sebelum ketiganya menyadari kehadirannya, sosok wanita itu melemparkan jaring tersebut ke arah ketiganya sambil mengucapkan mantera. Jaring yang awalnya terlihat kecil akhirnya membesar dan menutupi langit-langit gua. Suara tawa dari seringai diwajahnya menunjukkan kepuasan yang hakiki dari jiwanya yang licik.
Pak Sarwo adalah orang yang pertama tahu tentang adanya jaring, namun hal itu sudah menjadi sia-sia karena jaring itu telah menutup jalan keluar dan mereka terperangkap didalamnya. Lamunan yang tadinya berselancar di dalam kepala mereka akhirnya buyar. Wanita licik yang melemparkan jaring tersebut kini tepat berada di depan mereka. Naraya dengan mudah dapat melihat wujudnya dari dekat dan gadis itu malah menjerit kaget.
Wajah yang dia lihat dan wajah yang dirinya kenal sejak lahir tidak sama namun saat Naraya melihat ke dalam bola mata hitam yang menyimpan kesedihan itu penuh kekecewaan yang dalam. Naraya melihat ibunya terjebak di dalam raganya sendiri yang terikat pada perjanjian dengan makhluk jahat yang dahulu disembahnya. Naraya mencoba mencari solusi untuk lepas dari kondisi tersebut akan tetapi upaya yang diberikannya tidak membuahkan hasil. Semakin kuat upaya mereka untuk lepas dari jaring semakin ketat jaring tersebut melilit mereka.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
