Naraya
Langkah kaki yang terseret mulai mendekat, namun beberapa langkah lagi akan mencapai pintu ruangan langkah tersebut berhenti. Naraya telah bersiap dalam remang cahaya di posisinya sekarang, jelas suasana sepi membuat debaran jantungnya jelas terdengar. Naraya nyaris menahan nafasnya sendiri hatinya memberontak membiarkan segala ketegangannya menyanyi mengumandangkan kewaspadaan akan bahaya baru dengan berhentinya langkah kaki tersebut.
Naraya merapatkan tubuhnya, menarik kakinya perlahan mendekati pintu dan perlahan-lahan memiringkan kepalanya mencoba mengintip siapa yang ada diluar lorong. Naraya penasaran dan tangan kanannya telah terlebih dahulu menarik senjata pelindungnya. Naraya merasakan angin dingin sepintas menepis wajahnya dan gadis itu seperti ditampar, pipinya menjadi merah. Naraya melihat sosok yang dia maksud telah membuatnya kacau secara emosional.
Naraya melihat ibunya, ibu kandung yang sangat dia cintai berdiri di lorong sangat dekat hanya tinggal beberapa langkah darinya. Fokus Naraya berada pada kaki sang ibu yang terikat rantai besi yang panjang pada ujungnya sebuah bola berduri menjadi penahannya. Naraya tak berdaya, fikirannya menjadi kacau menatap sosok yang sangat ingin dia peluk. Ibunya mematung dan menatap tajam, tanpa suara Naraya paham makna dari tatapan dalam sang ibu.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
