Naraya
Tulang belulang yang berserakan membuat bulu kuduk berdiri, Naraya bertanya dalam hati siapa saja yang telah berhasil menemukan gua ini. Jumlah tulang yang tidak sedikit dan masih ada yang baru menunjukkan tempat ini menjadi tidak asing. Sesulit apakah hidup sehingga banyak orang memilih jalan yang sesat kepada makhluk yang tak kenal sang pencipta. Mereka memilih dengan tujuan yang berbeda namun keinginan tentunya menolak takdir dan mendengarkan bisikan setan.
Naraya memperhatiakan setiap tulang yang dia temukan agar dapat mengenali dengan cermat, tentu hati kecilnya tak ingin menemukan tanda sang ibu. Pak Sarwo yang melihat aktivitas Naraya juga ikut membantu, karena dirinya secara tidak langsung juga mengetahui beberapa benda yang sering dipakai majikannya. Namun mereka kembali menelan kekecewaan karena tak satu pun dari tulang belulang itu memakai atau ditemukan disekitarnya tanda-tanda atau benda seperti yang mereka kenali.
Pak Sarwo akhirnya mengajak mereka kembali melanjutkan perjalanan, menelusuri lorong panjang yang masih belum ketemu ujungnya. Ketiganya kembali berjalan dengan hati-hati menelusuri lorong bersama obor-obor ditangan. Kedua benda pusaka milik Naraya dan Pak Sarwo terlihat jauh di depan berpendar mengeluarkan sinar kebiruan dan merah. Pak Sarwo tetap memimpin sedangkan Naraya mengawasi di bagian belakang, berjaga jika musuh menyusup dari bagian belakang.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
