Naraya
Naraya menarik dengan kesal penanda yang tadi dia ikatkan di sebuah ranting pohon, pohon-pohon jati tersebut seakan menertawakan mereka yang gagal lagi menemukan jalan masuk. Sudah tiga kali mereka berempat menelusuri hutan tersebut dan akhirnya kembali kepada pohon awal tempat mereka memulai. Kendali kali ini diserahkan sepenuhnya kepada penjaga hutan dan istrinya, Naraya dan Pak Sarwo belum paham kondisi medan.
Mereka memutuskan mengisi tabung air minum kembali setelah persedian mereka habis selama tiga kali mengulangi daerah yang sama. Pak Sarwo mengambil air disungai kemudian memasang api untuk merebus dengan menggunakan teko yang mereka bawa dari desa. Istri penjaga hutan larangan bersiap-siap memasak makan malam. Kondisi memastikan mereka harus bermalam di tempat itu. Namun mereka akan terus mencari sampai matahari terbenam. Jadi tempat tersebut tetap mereka siapkan sebelumnya agar nanti mereka tidak kesulitan menyiapkan makan malam saat cahaya sudah mulai berkurang.
Bapak penjaga masih sibuk dengan peta hutan yang digambar pada kulit sapi, beberapa tulisan kuno tertulis dibagian peta. Hal yang menarik bagi Naraya mengetahui bacaan dan arti dari tulisan kuno yang tertera pada kulit sapi. Gadis itu terus berada di samping istri penjaga hutan larangan untuk mengetahui pesan apa yang tertulis di kulit itu. Dan setelah dibantu membacakannya oleh istri penjaga hutan larangan Naraya menangkap sesuatu yang luput dari perkiraan mereka.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
