Naraya
Kejahatan mereka yang sudah mulai menguap dan tercium jelas oleh Pak Sarwo membuat keduanya seperti orang kebakaran jenggot. Kondisi Pak Sarwo yang tidak bagus dimanfaatkan demi menyelamatkan niat busuk kedua orang yang mengaku memiliki rasa dendam kepada kedua orang tua Naraya. Dalam kondisi yang kurang bagus Pak Sarwo mencoba menggali terus keberadaan ibu Naraya, setidaknya dirinya sedikit merasa nyaman saat mengetahui tuannya itu masih hidup.
Ucapan kedua penjahat itu semakin memperjelas langkah dan niatnya, dari awal pertemuan mereka di saat akan memasuki hutan larangan keduanya berniat menguras harta Naraya namun malang bagi keduanya jika gadis yang akan mereka tipu memiliki banyak ilmu dan orang baik yang selalu mendampinginya. Setelah perempuan itu membantu Pak Sarwo meminum obatnya, laki-laki itu beransur duduk dengan tetap menjaga kewaspadaannya.
Pak Sarwo tersenyum bias saat mengetahui kecerdikan mereka yang terbatas dengan meninggalkan obat jahat tersebut di atas meja di samping tempat tidur tentu niat Pak Sarwo untuk melenyapkan obat tersebut karena efeknya yang berbahaya karena dapat menghilangkan memori jangka pendek. Pak Sarwo membayangkan tuannya sedang kesulitan mencari jalan keluar dari gua ini atau hanya sekedar terjemur matahari sebab jika itu terjadi maka dia dapat menolongnya
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
