Naraya
Naraya terbangun beberapa menit berikutnya, suasana yang terlalu hening mengusik tidurnya. Hati gadis itu bergemuruh saat mendapati ruangan itu kembali sepi. Naraya menyapu pandangan keseluruh ruangan untuk menemukan keberadaan penghuninya. Namun yang tertinggal di ruangan tersebut hanya tas yang berisi perlengkapan pengobatannya yang tertinggal. Sementara obor yang tadi mereka gantung dibagian depan dinding gua tampak lenyap. Tingal beberapa bagaian di belakang lorong yang masih terlihat menyala
Naraya mencoba memanggil-manggil nama orang-orang yang tadi bersamanya akan tetapi hanya gema di dinding sebagai balasan yang dia dengar. Naraya berjalan memeriksa sampai ke mulut gua dan sekelilingnya namun gelapnya hutan seakan menjawab semua rasa penasaran yang dia rasakan. Naraya masuk kembali dan mencoba menjajal satu persatu lorong dan mengecek keberadaan orang-orang yang dia kenali.
Usaha Naraya berhasil sia-sia, setelah kembali keruangan pertama yang berisi meja altar besar disana pemandangan yang di luar dugaan membuat Naraya kaget. Naraya menemukan semua yang dicarinya di sana. Pak Sarwo dan keenam orang lainnya ternyata sudah berada di dalam ruangan tersebut. Mereka sekarang duduk mengitari meja altar besar dengan memakai pakaian serba hitam dengan penutup kepala. Pemandangan yang membuat Naraya penasaran untuk bergabung bersama mereka, niatnya terhenti saat melihat seseorang masuk.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
