Naraya
Naraya mendengar suara jeritan yang menyayat hati berasal dari deretan pohon-pohon besar yang baru saja dia tinggalkan. Naraya yakin seseorang telah diserang oleh sang raja dan dicabik-cabik dengan kejam. Naraya sangat bersyukur karena dirinya sudah menjauh dari sumber bencana. Sekarang kondisinya ada dua sumber masalah yang memburu dirinya. Naraya memutuskan masuk ke dalam gua sebelum sumber masalahnya datang.
Naraya menyadari keputusan yang diambil mempunyai resiko yang lumayan besar, matahari hampir tergelincir saat gadis itu turun dari pohon. Setelah mengisi perutnya dengan buah-buahan yang berada di sepanjang sungai dan menyempatkan minum air sesuai kebutuhan tubuhnya dengan memanfaatkan air sungai dari mata air. Naraya tidak menyia-menyiakan kesempatan sebagai orang berikutnya yang menjadi kurban santapan si raja hutan.
Naraya menyiapkan api pada obor-obor yang digantung sepanjang dinding gua, sebagai sumber cahaya untuk berjalan masuk mengintari gua. Kali ini kondisi gua masih seperti terakhir mereka tinggalkan layaknya film pada layar tancap, Naraya melihat kisah yang terulang kembali dari sederetan peristiwa yang menyebabkan mereka berdua nyaris tewas. Naraya mengintari lorong terakhir dengan pasti, kali ini gadis itu memilih melawan musuh dengan upaya sendiri yang menurutnya akan jauh lebih hebat karena upaya itu adalah dengan tangan kosong.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
