Naraya
Naraya menghabiskan hari dengan memanah beberapa ekor ikan dan membakarnya untuk di pindahkan kedalam perutnya. Naraya memikirkan kondisi fisik yang harus dia pertahankan guna perjalanannya selanjutnya. Naraya menunggu waktu sore untuk masuk ke dalam gua karena pada jam segitu debit air berkurang. Naraya sempat merebahkan dirinya diatas dahan pohon terbesar yang berada di dekat air terjun, gadis itu berharap akan mudah baginya memantau situasi di sekitar air terjun.
Suasana hutan dan bunyi air yang jatuh membasahi bebatuan dan nyamannya tiupan angin membuat kantuk mata Naraya sehingga gadis itu tak sadar tertidur hingga dua jam. Hening yang mencekam membuatnya lebih berhati-hati, yang terdengar hanya suara air yang jatuh di atas batu dan memberikan bunyi yang unik. Naraya membuka mata perlahan setelah sebalumnya memasang telinganya baik-baik meamastikan kondisi sekeliling yang mencurigakan.
Dugaan Naraya tidak salah dimana gadis itu melihat rombongan orang-orang yang tadi mengejarnya tiba dan mereka menyebar ke seluruh bagian air terjun. Sebanyak dua puluh orang laki-laki bertubuh besar dengan otot yang kuat menelusuri setiap sudut air terjun. Dan di saat yang tidak tepat itu debit air tiba-tiba berkurang sehingga pintu masuk ke dalam gua terlihat jelas. Naraya sangat ingin bergabung bersama orang-orang itu jika saja bukan dirinya yang kini dijadikan target.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
